Drama nasional

0

Tidurlah… malam terlalu malam… tidurlah… pagi terlalu pagi… lagu itu yang malam ini cindil putar melalu earphone smartphonenya sambil berjalan keliling kampung, entah apa yang di lakukan manusia absurd ini, jam 9 malam, keliling kampung yang dingin dan gelap, dengan mendengarkan lagu-lagu yang liriknya terkadang absurd juga, terkadang dia harus melompat-lompat demi menghindari genangan air yang ada di jalan setapak yang gelap itu.

Manusia normal mungkin enggan melakukan hal semacam ini, tapi tidak untuk cindil, pada waktu-waktu tertentu bahkan justru di malam hari, dia duduk sendirian di jembatan yang menghubungkan antara kuburan dan jalan raya, dan konon angker, tapi cindil dengan cueknya tetap duduk disitu sampai menjelang subuh terkadang, entah itu karena ada sesuatu atau memang karena cindil adalah pengangguran yang sok sibuk itu, entah lah sapa yang ngerti hati manusia abstrak macam dia.

Setelah berjalan cukup jauh, cindil merasa lelah, dia memutuskan untuk masuk ke post ronda RW tetangga, sekedar minum kopi dan minta rokok, dari kejauhan samar-samar terdengar suara orang sedang berdebat dan membahas sesuatu, tapi cindil cuek, lalu masuk ke ke pos ronda itu sambil cengar-cengir kuda, ya cengiran cindil mirip kuda, dan mungkin ketika lebaran kuda nanti cindil akan menjadi imam sholat ied lebaran kuda tersebut.

Setelah cindil berbasa-basi, dan mereka juga berbasa-basi menyapa cindil dan menyuguhkan kopi, mereka melanjutkan lagi berdebatan mereka yang keliatanya sedang seru, mereka itu sebenarnya juga teman-teman cindil, satu adalah anak metal, yang mempunyai kulit badak, karena setiap malam dia hanya menggunakan kaos metal tanpa lengan, entah dia memang tidak merasakan dingin karena kampung cindil di puncak gunung dan sangat dingin, atau dia memang terbawa fashion yang memaksanya untuk berpaikan seperti itu, karena jika kulit badak, tapi kok pada punggungnya sedikit terlihat bekas kerokan, dan namanya juga tidak kalah metal “sardun”.

Sedangkan yang satu lagi, orangnya cukup rapi, tetapi dia pekerja keras, dan juga dia juga mempunyai profesi sampingan yaitu “membahagiakan istri atau pacar orang” untuk jasa ini, dia tidak pernah memungut biyaya, dia hanya mengatakan, ini demi kemanusiaan,akan tetapi namanya tidak cukup manusiawi, karena namanya adalah “buang” ya namanya buang, entah apa yang ada di benak orang tuanya ketika memberikan nama.

Setelah mereka rasa basa-basi dengan cindil sudah cukup, mereka melanjutkan perdebatan mereka

“Itu jelas penistaan, terdapat kata pakai maupun tidak pakai” buang agak meninggi

“loh liat dulu konteksnya, itukan sebenernya menyindir, ini jelas politik bermain disni” jawab si sardun tidak mau kalah.

Mereka berdebat sangat panjang, cindil hanya diam, sambil mengamati setiap perkataan mereka, sambil menyruput kopi hitam, cindil terus mengamati tanpa berkomentar sedikitpun, mereka asik berdebat hingga sepertinya keberadaan cindil tidak ada.


Setelah debat cukup panjang, dan kedua manusia itu mungkin sekarang dalam hatinya saling membenci, membuat mereka tampak lelah, lalu beristirahat dalam berdebatan, mereka menyruput kopi, membakar rokok dan terdiam, ya mereka terdiam, entah sudah saling membenci atau memang sudah lelah, atau bahkan sudah kehabisan kata-kata.

Akhirnya mereka berdua memandang cindil, dan berkata “menurutmu pie ndil masalah penistaan agama?”

“lah aku mana ngerti, aku wae masih sering menistakan agamaku sendiri kok” jawab cindil

“lah kok bisa” jawab mereka bareng

“bagaimana aku berani berkomentar masalah ini, wong ilmu agama saya saja masih secuil, untuk berkomentar aku harus mempunyai ilmu yang cukup luas, cara pandang yang luas, sudut pandang yang terkecil, jarak panjang yang terdekat sampai yang terjauh, aku harus paham semua, loh karena tentu sekali berkomentar apalagi di media sosial, banyak atau sedikit akan mempengaruhi orang yang membaca atau mendengar, dan itu pasti nanti di pertanggung jawabkan di akhirat, mending bener kalo salah? kita menanggung semua sudut pandang yang salah itu dari banyaknya orang yang terpengaruh akan omongan atau tulisan kita”

“Ya gak bisa gitu, kan agama sudah jelas ada tata caranya” jawab buang

“Loh agama memang ada tata caranya, makanya aku tidak berani berkomentar, karena menilai kasus ini kan harus sesuai tata cara, sedangkan aku tata caranya aja gak tau”

“Lagian dalam kasus ini, kita menilai itu berdasarkan apa ? kebencian ke orangnya, ataukah kalimat yang di omongkan, atau perbedaanya, atau apa ? tentukan dulu kita menilai ini dari sudut pandang yang mana”

“Contoh kaya pas demo kemaren, ada anggota DPR yang ikut turun ke jalan, lah anggota DPR ngapain ikut turun ke jalan ?, dengan kewenanganya mereka bisa mendesak melalui DPR, ngapain harus ikut turun ke jalan, fungsi dirinya sendiri aja gak paham, apalagi fungsi ayat alquran yang begitu luas?”

“Dan juga Banyak orang yang mencibir seuatu tindakaan seseorang, karena sangat mencibir dan membencinya, justru suatu hari nanti, orang itu dalam posisi orang yang pernah di cibir dan di bencinya. Begitulah cara gusti Allah menampar orang yang tidak mempunyai rasa hormat terhadap qodo dan qodar”

“Dah ah aku mau pulang wae, mending aku ngurusin fungsi diriku sendiri, kenapa aku di ciptakan di alam dunia ini, dari pada ngurusin hal ini, toh ada banyak yang lebih pandai dari kita yang ngurusinnya”

Cindilpun berlalu dengan kopi yang ternyata sudah dia habiskan satu poci, dan rokoknya hanya di sisakan 2 batang untuk mereka, mereka tidak sadar, ketika mereka bedebat masalah agama, cindil berhasil mengambil apa yang menjadi jatah ronda mereka tanpa mereka sadari, mungkin mereka akan sadar nanti, ketika mereka mulai haus dan pengen ngerokok.

 

Nasihaat dari aku untuk diriku, teman-teman manusia dan jin

Artikel Lain

Semua Salah jokowi !     Kali ini aku akan membahas sedikit kejadian di indonesia, tentang presiden kita, jokowi! loh kenapa kok bahas politik? oh bukan, i...
Menjadi kaya, idaman bagi semua part 2 Cindil lama merenung dan mencari arti dari kejadian ini, tetapi cindil masih belum menemukan tujuan dan arti dari ini, kenapa utusan itu dengan gampan...
Menjadi kaya, idaman bagi semua Semua orang pasti berhasrat untuk menjadi kaya dalam artian kaya materi, punya uang banyak, mobil banyak dan bagus, rumah besar, investasi dimana-mana...
Bahaya merasa paling Merasa paling, mungkin ini adalah sifat dasar bagi setiap makhluk hidup, merasa paling ada bermacam-macam konteks, seperit paling pintar, paling benar...
Semoga tuhan melindungi kita, Itu kata-kata mustah... Pernah seorang teman dalam posisi sangat terjepit dalam hidupnya, lalu teman lainnya mencoba memberikan ketenganan dengan berkata "semoga Tuhan melind...

Share.

About Author

Super Admin

Leave A Reply