Hujan Dan Perspektif manusia yang tidak tahu di untung

0

Pernah mendengar orang mengumpat-umpat hujan ? “wah mau keluar rumah kok hujan melulu“wah celana dalem udah abis tapi ujan terus, kapan kering” “kok malah ujan padahal ada janji¬† mau ke kota” dan umpatan-umpatan lain yang mengumpat kenapa kok bisa hujan, dan ada pula pujian-pujian untuk Hujan yang turun “Wah asik hujan bisa nyenyak tidurnya” “Yes ujan, kelon ama istri jadi lebih syahdu” dan macam-macam pujian-pujian lainnya.

Nah disni jelas kelihatan bahwa manusia mempunyai perspektif yang dangkal akan menilai sesuatu, tergantung kebutuhan dan kepentingan kita, kita tidak mau tahu bahwa hujan memang sudah menjadi fitrah air yang terkena matahari, menjadi awan dan hujan, kita tidak mau tahu urusan itu, yang jelas hujan ini ada kepentingan apa sehingga akan menjadi baik atau akan di maki-maki.

Padahal tanpa hujan, sirkulasi alam pasti tidak setabil, tanpa hujan saat ini yang entah kita sedang memakinya atau memujinya alam akan goyah dan tidak akan stabil sehingga sebenarnya hujan itu sadar kapan waktunya dia turun dan kapan waktunya dia tidak turun, disni kedangkalan manusia dalam menilai alam itu hanya sebatas “berkepintangan apa” ternyata manusia itu begitu dangkal dan tidak tahu di untung.


Sudah seperti itu, masih saja manusia merasa paling TOP, paling ampuh dan paling-paling lainnya, mereka tidak sadar bahwa penilaian mereka itu mempunyai ilmu yang dangkal, nah itu ketika mereka menilai hujan sudah sedangkal itu, apalagi menilai orang lain, menilai manusia lainnya, bahkan menilai Tuhan bisa saja mereka menilai dengan perspektif mereka yang dangkal itu, sehingga Tuhan menurut prespektifnya itu sangat dangkal.

Menilai Tuhan dengan sudut pandang kepentingan, menilai manusia juga dengan sudut pandang kepentingannya, jika merasa seseorang sejajar dengan kepentingannya maka dia akan menganggap itu benar apapun yang di katakan, jika berbenturan dengan kepentingannya maka orang tersebut jelas salah, hemm.. apakah menilai Tuhan juga seperti itu ? oh jelas banyak !

Contoh ketika kita sudah rajin beribadah, tapi mendadak di beri sakit, dengan lantang berkata “Ya Tuhan, apa salahku sehingga aku diberi cobaan seperti ini, apa dosaku ya Tuhan” itu sekedar contoh dan tentu masih banyak contoh lain yang menyalahkan Tuhan, weladalah, mbok ya mikir di beri sakit, diberi susah itu bentuk dari kepedulian Tuhan, bahkan seorang sepuh pernah berkata “hati-hati jika hidupmu enak-enak aja, aman-aman aja, bisa jadi kamu sudah di acuhkan Tuhan”

Lalu apa kesimpulan artikel ini ? oh tidak ada kesimpulan apa-apa, ini hanya artikel maki-makian dari prespektif dangkal manusia akan menilai suatu hal, yang tentu penilaian menggunakan kepentingan, entah itu menilai alam, hewan, manusia atau bahkan Tuhan dan jangan pernah merasa hebat, top dan paling pintar jika menilai sesuatu masih menggunakan sudut kepentingan.

Artikel Lain

Balada facebook, setelah virus alay kini virus hoa... Para pembaca anaksantai.com dari golongan manusia yang manis-manis, ganteng-ganteng, cantik-cantik dan dan juga dari golongan jin yang kami anggap tem...
Perbedaan Buruh Dan Petani Kali ini saya akan membahas dua profesi yang berbeda tapi mempunyai sedikit kesamaan, mempunyai persamaan dalam sisi perjuangan, bedanya perjuangan bu...
Berapa kadar ke atheisanmu? Siang itu, walau matahari lagi gagah-gagahnya menampakan diri diatas kepala, tapi tetap saja suasana didesa cindil tetap terasa dingin, di tambah ding...
Bahaya merasa paling Merasa paling, mungkin ini adalah sifat dasar bagi setiap makhluk hidup, merasa paling ada bermacam-macam konteks, seperit paling pintar, paling benar...
Semoga tuhan melindungi kita, Itu kata-kata mustah... Pernah seorang teman dalam posisi sangat terjepit dalam hidupnya, lalu teman lainnya mencoba memberikan ketenganan dengan berkata "semoga Tuhan melind...

About Author

Super Admin

Leave A Reply